Langsung ke konten utama

Operasi Caesar Bag 3


Operasi Caesar dalam Khazanah Islam (3)

nlm.nih.gov
Ilustrasi
A+ | Reset | A-
REPUBLIKA.CO.ID, Operasi caesar post-mortem dikenal dan dipraktikkan selama berabad-abad oleh banyak orang India sebelum Islam. 

Otoritas medis India yang termasyhur, “Kitab Susruta”, pernah menulis mengenai operasi tersebut pada abad ke-5 sesudah Masehi. Masa tersebut sesuai dengan periode ketika bangsa Arab sedang getol menerjemahkan karya medis.

Dokter Indialah yang diminta untuk menerjemahkan buku India ke dalam bahasa Arab. Seorang penulis kontemporer sejarah medis Arab, Profesor Ullmann, menyatakan, Barmakid Yahyu Ibnu Khalid telah menugaskan dokter India bernama Mankah untuk menerjemahkan Kitab Susruta ke dalam bahasa Arab. 

Kemungkinan besar Mankah juga menerjemahkan catatan medis India lain dan diberi judul “Kitab al-Sumum” atau Kitab Racun yang sumber aslinya masih belum diketahui. 

Ada banyak bukti yang menunjukkan dokter India terkait dengan praktik medis Arab dalam waktu yang lama selama periode emas perkembangan Arab. Jangan salah, kata farmasi dalam bahasa Arab sebenarnya berasal dari India.

Spekulasi tentang pengaruh India dapat diperkuat jika kita beranggapan hampir semua referensi yang berkaitan dengan operasi ini berasal dari kekhalifahan timur atau daerah di bawah pengaruh Baghdad. Hal ini belum disebutkan oleh para ulama dari kekhalifahan Barat atau orang Arab di Spanyol. 

Otoritas bedah Abu al-Qasim bin Abbas al-Zahrawi dari Kordoba yang meninggal pada 1013 M tidak menyebutkan operasi ini meskipun ia menulis tentang operasi kebidanan dalam 30 volume Kitab Tasrif-nya.

Bukti ilustrasi

Bukti yang paling penting, berharga, dan dilengkapi gambar mengenai ope rasi caesar terdapat dalam literatur Arab yang ditulis al-Biruni. Ia meninggal pada 1048 Masehi dalam usia 78 tahun. Sepanjang hayatnya, ia menulis banyak buku tentang sejarah, kedokteran, dan filsafat.

Salah satu naskah unik miliknya adalah “Al-Athar al-Baqiyah al-Qurun al-Khaliyah” yang kini berada di Universitas Edinburgh, Skotlandia. Buku itu diedit dan diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman dan Inggris oleh Profesor E Sachau pada 1879.

Postingan populer dari blog ini

Model Menara di Eropa dan Timur Tengah (3-habis)

Model Menara di Eropa dan Timur Tengah (3-habis) Rabu, 15 Agustus 2012, 22:48 WIB Komentar : 0 members.virtualtourist.com Menara Masjid Schwetzingen di Jerman. A+  |  Reset  | A- Kawasan Eropa Keanekaragaman bentuk menara juga bisa ditemui pada bangunan masjid-masjid di negara-negara Eropa.  Umumnya, bentuk menara masjid di kawasan Eropa ini banyak terinspirasi oleh bangunan masjid di sejumlah negara-negara Muslim.  Grande Mosquee de Paris atau Masjid Raya Paris adalah salah satu bangunan masjid yang masuk kategori ini. Dari kejauhan, bentuk menara masjid kebanggan Muslim Kota Paris ini mirip dengan menara Masjid Hassan II di Casablanca, Maroko. Menaranya berbentuk segi empat dan dilapisi keramik hijau toska ini mengadopsi kaidah Mazhab Maliki.  Pada keramik-keramik tersebut, dapat dilihat kerumitan tatanan dinding yang berwarna abu-abu. Di dalam bangunan menara, terdapat sebuah tangga menuju bagian puncak menara. Menar...

Model Menara di Eropa dan Timur Tengah (1)

Model Menara di Eropa dan Timur Tengah (1) Rabu, 15 Agustus 2012, 22:02 WIB Komentar : 0 mvmtravel.com Menara Masjid Aleppo di Suriah. A+  |  Reset  | A- REPUBLIKA.CO.ID, Di awal perkembangannya, gaya arsitektur menara Masjid Damaskus dan Masjid Nabawi telah menjadi trend-setter.  Pola menara kedua masjid itu telah direplikasi dan dicontoh masjid-masjid hingga berbagai penjuru negeri Muslim melintasi dataran Arab hingga ke Andalusia. Dalam perkembangannya, desain arsitektur menara masjid pun menjadi beragam. Gaya dan bentuk menara itu biasanya disesuaikan dengan budaya dan kondisi wilayahnya.  Secara umum, terdapat lima bentuk dan gaya menara masjid, yakni menara klasik, menara variasi, menara segi empat, menara spiral, dan menara silinder. Menara klasik memiliki desain yang khas. Lantai dasarnya berbentuk segi empat, naik ke atas menjadi oktagonal (segi delapan) dan kemudian diakhiri dengan tower silinder yang dipuncaki den...

Madrasah Al-Zahiriyah, Khazanah Arsitektur Islam Berbagai Dinasti (1)

Madrasah Al-Zahiriyah, Khazanah Arsitektur Islam Berbagai Dinasti (1) Kamis, 23 Agustus 2012, 21:31 WIB Komentar : 0 http://moslimonline.net Madrasah Al-Zahiriyah di Aleppo, Suriah. A+  |  Reset  | A- REPUBLIKA.CO.ID, Selama ini masyarakat dunia hanya mengenal Andalusia, Kordoba, Baghdad, Kairo, Damaskus, dan Istanbul sebagai kota-kota penting dalam sejarah peradaban Islam.  Tidak demikian halnya dengan Aleppo, kota yang terletak sekitar 350 kilometer sebelah utara Ibukota Suriah.  Padahal, di kota ini terdapat peninggalan sejarah peradaban Islam seperti benteng-benteng, pintu gerbang, pasar-pasar tradisional, rumah peristirahatan, masjid, tempat pemandian umum, rumah sakit, dan madrasah (sekolah). Sama halnya dengan Damaskus, Aleppo memiliki sejarah panjang sebagai salah satu kota tertua di dunia. Aleppo terletak di persimpangan sejumlah jalur perdagangan yang padat. Bahkan, Aleppo termasuk rute 'Jalan Sutra' sejak milenium...