Langsung ke konten utama

Operasi Caesar Bag 4


Operasi Caesar dalam Khazanah Islam (4-habis)

nlm.nih.gov
Ilustrasi
A+ | Reset | A-
REPUBLIKA.CO.ID, Dalam riwayat kronologis negara, al-Biruni menceritakan tiga referensi operasi caesar. 

Dia menulis bahwa Kaisar Augustus (63 SM-14 Masehi) dilahirkan dengan cara operasi caesar setelah ibunya meninggal. 

Pernyataan tersebut membalikkan kepercayaan umum yang keliru yang menyebutkan Julius Caesar lahir saat ibunya masih hidup.

Al-Biruni juga menyebutkan pemimpin sebuah revolusi melawan penguasa Samanid Nasr II (914-943 Masehi) dari Transoxiana, Ahmad Ibnu Sahl, dilahir kan secara caesar. 

Bukti yang paling penting dan unik bisa ditemukan di salah satu dari 24 gambar dalam naskah ini. Gambar ini memberikan gambaran yang jelas mengenai operasi caesar. Naskah ini juga dikenal sebagai buku berilustrasi pertama tentang operasi caesar.

Penyair Persia termasyhur Firdawsi (935-1025 M) tercatat telah menyelesaikan naskah puisinya, Shahnama. Dengan gamblang ia menggambarkan operasi Caesar dalam epik 60 ribu bait puisi. 

Naskah puisi Firdawsi juga dilengkapi dengan ilustrasi menarik penuh warna. R Vafaie I dalam bukunya, “The Birth of Rustam”, menyatakan Firdawsi juga menyebutkan penggunaan anestesi selama operasi.

Seorang penulis, Jerman A Haeuber, telah mengumpulkan literatur keagamaan murni dalam sebuah makalah singkat, “Der Kaiserschmitt im islamischen Kulturkreis”. Makalah itu diterbitkan pada 1969. Isinya mendukung pandangan bahwa operasi caesar tidak pernah dilarang oleh otoritas terkenal Muslim. 

Salah satu pendapat penting yang dikutip Haeuber menyebutkan seorang ahli hukum Islam yang sangat dihormati Abu Hanifah (699-767 M) berpendapat, operasi caesar diizinkan dilakukan pada wanita hamil yang hidup atau telah meninggal.

Pada akhirnya, dapat dipahami jika beberapa penulis beranggapan Muslim dilarang melakukan operasi caesar karena tidak adanya bukti yang akurat. 

Postingan populer dari blog ini

Model Menara di Eropa dan Timur Tengah (3-habis)

Model Menara di Eropa dan Timur Tengah (3-habis) Rabu, 15 Agustus 2012, 22:48 WIB Komentar : 0 members.virtualtourist.com Menara Masjid Schwetzingen di Jerman. A+  |  Reset  | A- Kawasan Eropa Keanekaragaman bentuk menara juga bisa ditemui pada bangunan masjid-masjid di negara-negara Eropa.  Umumnya, bentuk menara masjid di kawasan Eropa ini banyak terinspirasi oleh bangunan masjid di sejumlah negara-negara Muslim.  Grande Mosquee de Paris atau Masjid Raya Paris adalah salah satu bangunan masjid yang masuk kategori ini. Dari kejauhan, bentuk menara masjid kebanggan Muslim Kota Paris ini mirip dengan menara Masjid Hassan II di Casablanca, Maroko. Menaranya berbentuk segi empat dan dilapisi keramik hijau toska ini mengadopsi kaidah Mazhab Maliki.  Pada keramik-keramik tersebut, dapat dilihat kerumitan tatanan dinding yang berwarna abu-abu. Di dalam bangunan menara, terdapat sebuah tangga menuju bagian puncak menara. Menar...

Model Menara di Eropa dan Timur Tengah (1)

Model Menara di Eropa dan Timur Tengah (1) Rabu, 15 Agustus 2012, 22:02 WIB Komentar : 0 mvmtravel.com Menara Masjid Aleppo di Suriah. A+  |  Reset  | A- REPUBLIKA.CO.ID, Di awal perkembangannya, gaya arsitektur menara Masjid Damaskus dan Masjid Nabawi telah menjadi trend-setter.  Pola menara kedua masjid itu telah direplikasi dan dicontoh masjid-masjid hingga berbagai penjuru negeri Muslim melintasi dataran Arab hingga ke Andalusia. Dalam perkembangannya, desain arsitektur menara masjid pun menjadi beragam. Gaya dan bentuk menara itu biasanya disesuaikan dengan budaya dan kondisi wilayahnya.  Secara umum, terdapat lima bentuk dan gaya menara masjid, yakni menara klasik, menara variasi, menara segi empat, menara spiral, dan menara silinder. Menara klasik memiliki desain yang khas. Lantai dasarnya berbentuk segi empat, naik ke atas menjadi oktagonal (segi delapan) dan kemudian diakhiri dengan tower silinder yang dipuncaki den...

Madrasah Al-Zahiriyah, Khazanah Arsitektur Islam Berbagai Dinasti (1)

Madrasah Al-Zahiriyah, Khazanah Arsitektur Islam Berbagai Dinasti (1) Kamis, 23 Agustus 2012, 21:31 WIB Komentar : 0 http://moslimonline.net Madrasah Al-Zahiriyah di Aleppo, Suriah. A+  |  Reset  | A- REPUBLIKA.CO.ID, Selama ini masyarakat dunia hanya mengenal Andalusia, Kordoba, Baghdad, Kairo, Damaskus, dan Istanbul sebagai kota-kota penting dalam sejarah peradaban Islam.  Tidak demikian halnya dengan Aleppo, kota yang terletak sekitar 350 kilometer sebelah utara Ibukota Suriah.  Padahal, di kota ini terdapat peninggalan sejarah peradaban Islam seperti benteng-benteng, pintu gerbang, pasar-pasar tradisional, rumah peristirahatan, masjid, tempat pemandian umum, rumah sakit, dan madrasah (sekolah). Sama halnya dengan Damaskus, Aleppo memiliki sejarah panjang sebagai salah satu kota tertua di dunia. Aleppo terletak di persimpangan sejumlah jalur perdagangan yang padat. Bahkan, Aleppo termasuk rute 'Jalan Sutra' sejak milenium...